Perseteruan verbal antara Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham “Lulung” Lunggana dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sudah biasa menjadi konsumsi publik.

Kedua politisi tak pernah malu-malu mengumbar perbedaan di forum terbuka atau di hadapan awak media terkait sejumlah isu sensitif, terkait politik hingga kasus korupsi. Di tengah perseteruan keduanya, ada beberapa ramalan Lulung tentang Ahok yang di kemudian hari terbukti benar.

Ahok maju melalui jalur partai, bukan independen

“Saya mau iris ini kuping saya kalau dia mau maju independen,” ujar Lulung pada akhir Juni kepada media. Lulung tak pernah yakin jika relawan politik Teman Ahok mampu mengantar idolanya lewat jalur non-parpol.

Lulung saat itu yakin jika Ahok akan lebih memilih bergabung dengan partai politik, ketimbang maju secara independen dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

“Kalau dia daftar independen, nih gua potong nih kuping sampai putus dua-duanya, enggak loncat dari Monas,” sumbar dia kala itu.

Alasan utamanya, kata Lulung, pengumpulan satu juta KTP hal yang sangat sulit dan tidak mudah diverifikasi. Lulung menganggap klaim Teman Ahok hanya sebagai propaganda politik untuk menaikkan posisi tawar Ahok di mata partai.

Gugatan ke BPK

Ramalan Lulung yang kedua adalah tentang perseteruan Ahok dengan Harry Azhar Azis, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Harry mempersilakan Ahok melapor ke polisi terkait dengan hasil audit BPK mengenai pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Dalam auditnya, BPK menyebut pembelian lahan Sumber Waras oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berpotensi merugikan negara sekitar Rp 191 miliar. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berkukuh pembelian itu tak salah. Selain itu, Ahok menyebut audit BPK keliru.

Ketika itu, Lulung meramalkan bahwa Ahok tidak akan berani melaporkan Harry ke polisi untuk membuktikan kebenaran ucapannya, dan sampai sekarang laporan Ahok ke penegak hukum terkait Harry yang disebutnya ngaco itu tidak pernah ada.

Klaim satu juta KTP

Abraham Lunggana atau akrab disapa Haji Lulung tak pernah percaya Teman Ahok sanggup mengumpulkan 1 juta KTP. Bahkan, ketika para relawan politik itu mengklaim telah mengumpulkan satu juta lebih, Lulung bersikukuh bahwa klaim itu bohong.

Lulung menilai sah-sah saja bagi Teman Ahok untuk melalukan propaganda, namun saat itu dia mengingatkan supaya mereka jangan sampai publik dibohongi.

“Bohong itu (1 juta KTP), propaganda, retorika saja. Saya sudah perkirakan dari dulu. Susah nyarinya apalagi harus akurat verifikasinya. Kan sudah ngomong kan lima orang bunyi kan (mengaku) beli (KTP) dari sana beli dari sini,” kata Lulung akhir Juni lalu.

“Saya pikir sah-sah saja propaganda itu dari segi politik, tapi ini kan ada pembohongan terhadap publik, mengajak publik menipu,” tambah Lulung. Benar saja, Teman Ahok tidak pernah mendaftarkan klaimnya untuk diverifikasi KPU DKI.

Ahok tersangka

Penetapan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama terkait Surah Almaidah ayat 51 tak luput dari perhatian Lulung. Jauh sebelum kasus penistaan agama itu terjadi, Ahok dan Lulung sempat saling lempar komentar soal siapa duluan dari keduanya yang bakal menjadi tersangka.

Lulung menceritakan, saat ramai kasus korupsi UPS 2015, Ahok sempat bertaruh dan menyebut bahwa Lulung yang bakal terlebih dahulu jadi tersangka.

“Saya pernah bilang begitu, terus Ahok nyeletuk ‘coba duluan mana nih Haji Lulung atau gua duluan yang jadi tersangka’ Ahok ngomong begitu, ya kita Aminin aja. Sekarang, terbukti kan siapa yang jadi tersangka,” ujar Haji Lulung sambil tertawa, Kamis (17/11/2016).

Ahok bakal kalah di Pilkada?

Lulung memprediksi Ahok bakal keok di putaran pertama Pemilihan Kepala Daerah DKI 2017. “Dia kan bilang dengan pede ‘gua (menang) putaran pertama, Nah gua balikin, kalau sama gue ada sama dengannya. Basuki Tjahaja Purnama sama dengan (=) bakal kalah di putaran pertama,” ujarnya

Pilkada belum digelar, jadi ramalan Lulung yang satu ini belum bisa dibuktikan. Kita tunggu saja, apakah ramalan yang ini juga benar seperti sebelumnya, atau malah meleset.