Praktisi IT Chief Executive Officer (CEO) 8 Bit Hajon Mahdy M menilai terjadinya pembobolan karena sistem yang diterapkan masih konvensional. Hal ini diungkapkan terkait peristiwa raibnya uang nasabah BRI. Berikut analisisnya:

Terjadinya pembobolan karena sistem BRI masih konvensional.

Saya bahkan sudah membaca kasus di kota lainnya, saya lihat hampir semua pembobol melakukan tarik tunai via mesin ATM.

Itu artinya, si pembobol udah simpan data nasabah tersebut sebelumnya.

Kartu ATN BRI saat ini masih menggunakan magnetic stripe yang sangat gampang di duplikasi dengan teknik skimming.

Jadi di dalam kartu ATM itu tersimpan track 1 dan track 2, inilah yang mereka curi lewat teknik skimming.

Setelah track 1 dan 2 didapat maka mereka bebas duplikasi kartu ATM tersebut. Inilah kelemahan magnetic stripe.

Oleh sebab itu sekarang banyak bank yang sudah meninggalkan teknologi magnetic stripe dan beralih ke chip.

Saat ini teknologi kartu yang digunakan perbankan itu cuma dua. Magnetic stripe yang belakangnya warna itam dan chip yang didepan kayak ade simcard kecil.

Utk harga teknologi sebenarnya relatif, bank harus memikirkan kenyamanan nasabah.

Untuk kasus ini kemungkinan menurut saya ada dua.

Pertama dengan teknik skiming. Mereka pasang reader magnetic stripe di mesin ATM untuk mereka data track 1 dan track 2 nasabah.

Untuk kemudian mereka melakukan duplikasi kartu.

Yang kedua adalah mereka membobol sistem di BRI, apalagi BRIbaru melakukan upgrading sistem yang kemungkinan bugsnya masih ada dan masih bisa dimanfaatkan oleh pembobol.

Ini dapat dilihat dari banyaknya korban dan masivenya pembobolan.

Tapi biasanya kalau menggunakan teknik skimming hampir tidak mungkin semassive ini.

Berapa banyak modal hacker tersebut? Kalau teknik skimmer hacker harus pasang alat di mesin ATM. Bayangkan korban ada di NTB dan di Kalbar yang udah terdeteksi.

Si pembobol ambil uang di lombok. Jika dilihat banyaknya tempat tidak mungkin pelaku memasang skimming di satu-satu mesin ATM BRI.

Cara untuk menghindari teknologi kartunya harus diperbarui.

Dari sisi nasabah jika bertransaksi lihat mesin lubang masukan kartunya. Kalau lubangnya aneh atau kayak ada bekas congkelan jangan dipakai mesin ATM-nya, pakai lah mesin ATM lain.