Pernyataan Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang menyebut ada dugaan upaya makar pada aksi Aksi Bela Islam III pada 2 Desember 2016 atau disebut aksi 212 disayangkan para pengamat.
 
“Kapolri Tito Karnavian harus super hati-hati membuat pernyataan, tidak langsung mengumbar info intelijen yang belum dicheck kebenarannya, apalagi langsung disampaikan kepada presiden,” kata  pengamat politik Sjafril Sofyan menjawab Harian Terbit, Kamis (24/11/2016).

Menurut Sjafril, saat dikejar oleh wartawan soal makar itu, Kapolri jadi gelagapan. “Masak sumber soal makar dari sosmed atau google. Kedepan Kapolri harus super hati hati tidak grasa-grusu. Sebaiknya tiru seniornya Menkopolhukam Wiranto dengan ketenangan dan kalem, sehingga masyarakat jadi adem. Jangan terkesan malah Kapolri bikin gaduh,” kata Sjafril yang juga aktivis Gerakan Mahasiswa 77/78.

Dihubungi terpisah, mantan anggota DPR Djoko Edi mengatakan, ucapan makar, dilaunching oleh Kapolri. Akibatnya pasar internasional goyang.

“Tito harus belajar banyak. Akhirnya menikam diri sendiri. Yang makar tak ditemukan, tak ada. Internasional malah pasang kuda-kuda. Pasar terdeppresi. Investor profit taking, dan menunggu episode makar. Ia bikin blunder sendiri,” Djoko Edi menjawab Harian Terbit.
Direktur NSEAS Muchtar Efendi Harahap berpendapat, jika memang ada makar, sungguh tidak ada hubungan langsung dengan kekuatan umat Islam yang mau mengadakan aksi demo 212 mendatang. Kekuatan ummat Islam ini berada di luar pemerintahan.

“Kalaupun terjadi makar bersamaan  dengsn aksi demo 212, hal itu bukan karena aksi demo, tetapi kekuatan makar memanfaatkan aksi demo. Jika aksi demo tidak menggunakan  kekerasan fisik, kekuatan makar sulit sekali memanfaatkan aksi demo,” paparnya.

Muchtar mengemukakan, untuk melakukan pengambilalihan kekuasaan rezim Jokowi,  kekuatan makar memerlukan kondisi “kerusuhan sosial” terlebih dahulu, baru kemudian rezim Jokowi  mengundurkan diri atau dimundurkan. Kerusuhan sosial sebagai prasyarat aksi makar bisa diakukan   oleh peserta demo setelah direkayasa oleh pihak pelaku makar.

“Saya percaya, sebagian besar aksi demo 212 takkan punya pikiran dan beren Sebelumnya,  Menteri Pertahanan (Menhan)  Ryamizard Ryacudu mengatakan belum menerima laporan adanya upaya makar di balik rencana unjuk rasa 212  yang dikaitkan dengan dugaan penistaan agama yang disangkakan kepada Gubernur DKI nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

“Saya tidak dengar itu (makar) ya. Intelijen saya tidak dengar itu. Kita kalau ngomong yang pasti benar, jangan sampai yang kata orang, fitnah nanti kan,”,” kata Menhan Ryamizard di Kantor Kemenhan, Jakarta, Selasa.

Hal sama juga ditegaskan Juru Bicara FPI Munarman, menurutnya,  aksi ditujukan hanya meminta kepolisian menahan tersangka kasus penistaan agama Ahok.  
 
“Kami menuntut penegakan dan keadilan hukum, tidak ada niat atau motif lain. Kami juga memastikan aksi ini tidak akan ditunggangi kepentingan politik manapun,” papar Munarman.