Banyaknya tokoh-tokoh minang yang ditangkap KPK belakangan ini, menimbulkan persepsi negatif bagi warga Sumatera Barat. Sebut saja ketua DPD Irman Gusman, mantan Dirut Garuda Indonesia Emirsyah Satar, terakhir Patrialis Akbar Hakim Konstitusi.

Persepsi yang muncul dibenak masyarakat yaitu, KPK sengaja membidik orang Minang, dampak dari persoalan pilpres 2014, yang diketahui bahwa Jokowi-JK kalah telak di Sumatera Barat ini.

Tudingan tersebut dibantah oleh kepala biro humas KPK Febri Diansyah yang juga putra Minang.

“Kalau ada tudingan bahwa KPK membidik Urang Awak, saya rasa ini kurang pas, karna kami bekerja tidak berdasarkan etnis atau agama tertentu,” katanya yang disampaikan lewat WattApp.

Bahkan tambahnya, tak sedikit penyidik dan penyelidik di KPK adalah putra-putri Minang.

“Justru kami yang asal Minang yang ikut membuat putusan atas perkara ini gusar juga,” ungkap putra Payakumbuh ini.

Mengenai kasus yang menimpa Patrialis Akbar, KPK menjelaskan sudah enam bulan menyelidikinya.

“P-A adalah hakim panel yang sedang menangani Judicial Review UU tentang Peternakan, ada beberapa pengusaha daging yang berkepentingan agar ini menang sehingga mereka diuntungkan, mereka kemudian mencari orang dekat P-A bernama Kamal dan kemudian memberikan uang lewat Kamal, dan yang kemaren itu adalah yang ke tiga kali P-A menerima uang atau janji,” jelasnya.

Sedangkan kasus yang menjerat Emirsyah Satar, KPK mengaku sudah menjalin komunikasi selama 3 tahun dengan London.

“Maslah P-A juga sama dengan Emirsyah Satar, yang ternyata juga Urang Awak, setelah berkomunikasi 3 tahun dengan London dan Singapura, maka didapatkan bukti yang lebih dari cukup untuk perkara suapnya,” terang Febri.

Febri juga mengungkapkan, dalam waktu dekat juga akan ada kehebohan bagi orang Sumatera Barat.

“Dalam waktu dekat, kami juga akan limpahkan perkara e-KTP dengan terdakwa mantan Dirjen Irman yang juga Urang Awak, cerita dalam dakwaan itu saya yakin akan heboh, dan kebawa juga Urang Awak lainnya,” pungkasnya.