Ani Yudhoyono menolak tuduhan bahwa suaminya, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono adalah pihak yang menggerakkan aksi unjuk rasa 4 November.

Hal itu ia tulis dalam akun instagramnya, @aniyudhoyono:

“10 tahun Pak SBY memimpin negara tidak ada DNA keluarga kami berbuat yang tidak-tidak.”

“Jadi kalau ada tuduhan kepada Pak SBY yang menggerakkan dan mendanai aksi damai 4 November lalu, itu bukan hanya fitnah yang keji tetapi juga penghinaan yang luar biasa kepada Pak SBY.”

“Dalam perjalanan hidupnya selama 30 tahun di TNI dan selanjutnya di pemerintahan, Pak SBY telah mengabdi kepada bangsa dan negara, siapa mempertahankan dan membela NKRI dengan taruhan nyawanya.”

“Sekali lagi tuduhan itu sangat kejam. Allah Maha Tahu apa yang kami lakukan selama ini.”

Memang di sosial media saat ini marak muncul tuduhan bahwa yang menggerakkan massa pada 4 November adalah Presiden ke-6 Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, yang sering dipanggil dengan SBY.

Bahkan di twitter, tagar #SBYProvokator sempat menjadi topik populer.

hal-hal-ini-yang-buat-sby-merasa-dituduh-jadi-dalang-aktor-dibalik-demo-4-nov2

Di media sosial Facebook ada selebaran yang memperlihatkan dugaan seorang ustaz yang menginginkan Ahok dibunuh yang adalah anggota Partai Demokrat.

Terkait ini, Ahmad Mubarok, anggota Dewan Pembina Partai Demokrat mengatakan partainya tidak terlibat demo 4 November.

“Kalau ada anggota Demokrat ikut (demo 4 November) itu karena mereka anggota pengajian, jamaah masjid. Politik kami sama sekali tak ikut,” kata Ahmad.

Tuduhan kaitan SBY dan demo 4 November muncul setelah SBY melakukan konferensi pers di kediamannya di Cikeas pada 2 November.

Dalam pernyataannya, ia antara lain menyayangkan adanya informasi intelijen yang menyebutkan bahwa demonstrasi pada 4 November digerakkan oleh orang tertentu atau partai tertentu, termasuk Parta Demokrat.

“Kalau ada intelijen seperti itu berbahaya. Menuduh kelompok, seseorang, atau parpol tertentu, seperti Demokrat adalah fitnah. Fitnah sangat keji. Memfinah, menuduh orang atau parpol atas dasar intelijen, sangat keji dan menghina,” kata SBY.

Pengamat politik Ray Rangkuti menjelaskan, tuduhan kaitan SBY dan demo dipicu oleh keterangan pers di Cikeas dan juga karena Presiden Jokowi menemui tokoh Gerindra yang juga pesaing di pilpres, Prabowo Subianto.

“Langkah politik Jokowi boleh disebut, hanya SBY orang-orang yang berseberangan dengan Jokowi. (Hanya SBY) yang tidak ditemui Jokowi sebelum kejadian 4 November,” kata Ray.

“Seperti kita ketahui, dia bertemu Pak Prabowo dan dengan beberapa majelis ulama. Pada saat yang bersamaan tidak menemui Pak SBY di Jakarta.”

“Kedua, rekasi yang dimunculkan Pak SBY yang seolah-olah SBY sendiri yang memposisikan dirinya sebagai orang yang dianggap berkaitan dengan peristiwa 4 November.”

“Saya sendiri bertanya-tanya di mana sebetulnya Pak Jokowi mengasumsikan SBY di belakang peristiwa (4 November) ini. Dalam kasat mata kita tidak menemukan.”

“Terakhir, setelah peristwa itu ada pernyataan Pak Jokowi yang menyatakan ada dugaan kerusuhan yang terjadi setelah aksi damai itu ditunggangi oleh kepentingan politik tertentu.”

“Ini yang mendasari (mengapa) mengerucut ke Pak SBY.”

Namun, menurut Ahmad Mubarok, tuduhan ke SBY tersebut sebenarnya ditujukan ke anaknya, Agus Yudhoyono, yang sedang mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI periode 2017-2022.

“Itu karena orang mau mem-bully¬†Agus (Yudhoyono),” kata Ahmad.

Ray Rangkuti menambahkan, bukan tidak mungkin ada tokoh lain yang menggerakkan demo 4 November.

“Tentu sangat mungkin ada tokoh lain. Jangan-jangan Pak SBY juga sebagai korban bayangan sebagai aktor dalang 4 November itu. Namun kita berbicara gejala-gejala yang disebutkan tadi,@ kata Ray.

“Bisa dipahami kenapa asumsinya ke Pak SBY, tapi tentu bisa saja aktor yang tak terlihat yang bermain,” katanya.